Friday, 8 September 2017

MATERI KUTBAH BAHAGIA DENGAN MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN



Hasil gambar untuk KUTBAH


MATERI KUTBAH
BAHAGIA DENGAN MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN

Muqadimah... Ungkapan Syukur... Shalawat dan Salam... Wasiat Iman dan Taqwa...
Saudara-saudaraku kaum muslimin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Banyak contoh yang sering kita lihat dan saksikan, orang yang memiliki harta banyak, namun mereka tidak mampu nikmati kebahagiaan, fakta menunjukkan bahwa kebahagiaan itu tidak selalu diukur dengan harta, kebahagiaan juga tidak selalu diukur dengan kemewahan apalagi ketenaran, karena... ada perkara-perkara lain yang bisa menjadikan seseorang menjadi bahagia. Untuk itulah saudaraku, agar kita semua paham dan memahami, dalam kesempatan jum’at ini, akan saya sampaikan khutbah dengan judul :
Bahagia dgn membahagiakan orang lain

Saudara-saudaraku kaum muslimin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Rasul SAW bersabda : Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang bisa membawa manfaat bagi orang lain, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah yang bisa membuat gembira seorang muslim, dengan menghapuskan susahnya, bayarkan hutangnya, atau hilangkan laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai, daripada beri’ktikaf di masjid Nabawi selama satu bulan (HR. Thabrani)

Ada seorang sahabat yang menemui Nabi SAW, sahabat ini mengeluhkan kekerasan dan kekakuan di dalam hatinya, ia tidak merasakan kebahagiaan, maka Nabi SAW bersabda : Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim. (HR. Ahmad)

Saudara-saudaraku kaum muslimin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Mungkin di antara kita ada yang bertanya, apa urgensi dan korelasi kebahagiaan dengan memberi makan orang yang miskin? Apa hubungan kebahagiaan dengan mengusap kepala anak yatim? Apa urgensi dan korelasi keduanya dengan kelembutan hati dan kebahagiaan?
Ingatlah saudaraku... di dalam islam, ada sebuah prinsip yang fenomenal dan fondamental : Balasan itu sesuai dengan amalan, jika seorang hamba mampu menyenangkan hati dan membantu kesulitan orang lain, maka... Allah juga bakal menyenangkan hati dan memberi jalan untuk atasi kesulitan yang dihadapinya.
 Oleh karena itulah... sering kita dapati sebagian orang, mau berletih-letih dan berpayah-payah mengumpulkan dana dan barang-barang yang bermanfaat, untuk diberikan kepada saudara-sadaranya yang membutuhkan, meskipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Padahal... pekerjaan itu sangatlah berat, dan mereka juga tidak mengharapkan upah sedikitpun, hal ini dilakukan karena ada kebahagiaan yang ia dapatkan. Allah-lah yang telah memasukkan kebahagiaan dalam dirinya.
Oleh karenanya manusia yang paling berbahagia di muka bumi ini adalah Nabi SAW. Mengapa? Karena Beliau adalah orang yang paling memikirkan bagaimana caranya membahagiakan orang lain.

Allah SWT berfirman :
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah)

Rasulullah merasa berat hatinya penderitaan para sahabatnya, penderitaan kaum muslimin secara umum, beliau menginginkan keimanan dan keselamatan bagi para sahabatnya dan umat beliau seluruhnya.
Ummul mukminin, Kahdijah radhiallahu ‘anha juga pernah memuji sifat suaminya ini, ketika Rasulullah SAW merasa takut bahwa dirinya terancam saat menerima wahyu pertama,

كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR. Al-Bukhari no. 4572 dan Muslim no. 231)

Inilah sifat dasar Nabi SAW bahkan sebelum Beliau menerima wahyu. Khadijah menyebutkan beberapa sifat suaminya, yang kesemuanya menunjukkan bahwa beliau selalu berusaha membuat orang lain berbahagia; menyambung silaturahmi, jujur, memikul beban orang lain, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung kebenaran.
 

No comments:

Post a Comment