MATERI KUTBAH
BAHAGIA DENGAN MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN
Muqadimah...
Ungkapan Syukur... Shalawat dan Salam... Wasiat Iman dan Taqwa...
Saudara-saudaraku
kaum muslimin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Banyak contoh yang sering kita lihat
dan saksikan, orang yang memiliki harta banyak, namun mereka tidak mampu
nikmati kebahagiaan, fakta menunjukkan bahwa kebahagiaan itu tidak selalu
diukur dengan harta, kebahagiaan juga tidak selalu diukur dengan kemewahan
apalagi ketenaran, karena... ada perkara-perkara lain yang bisa menjadikan
seseorang menjadi bahagia. Untuk itulah saudaraku, agar kita semua paham dan
memahami, dalam kesempatan jum’at ini, akan saya sampaikan khutbah dengan judul
:
Bahagia dgn membahagiakan orang lain
Saudara-saudaraku
kaum muslimin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Rasul SAW bersabda : Manusia yang paling dicintai Allah adalah
yang bisa membawa manfaat bagi orang lain, dan pekerjaan yang paling dicintai
Allah adalah yang bisa membuat gembira seorang muslim, dengan menghapuskan
susahnya, bayarkan hutangnya, atau hilangkan laparnya. Sungguh, aku berjalan
bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai, daripada
beri’ktikaf di masjid Nabawi selama satu bulan (HR. Thabrani)
Ada seorang sahabat yang menemui Nabi SAW,
sahabat ini mengeluhkan kekerasan dan kekakuan di dalam hatinya, ia tidak
merasakan kebahagiaan, maka Nabi SAW bersabda : Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang
miskin dan usaplah kepala anak yatim. (HR. Ahmad)
Saudara-saudaraku
kaum muslimin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Mungkin
di antara kita ada yang bertanya, apa urgensi dan korelasi kebahagiaan dengan
memberi makan orang yang miskin? Apa hubungan kebahagiaan dengan mengusap
kepala anak yatim? Apa urgensi dan korelasi keduanya dengan kelembutan hati dan
kebahagiaan?
Ingatlah
saudaraku... di dalam islam, ada sebuah prinsip yang fenomenal dan fondamental
: Balasan itu sesuai dengan amalan, jika
seorang hamba mampu menyenangkan hati dan membantu kesulitan orang lain, maka... Allah
juga bakal menyenangkan hati dan memberi jalan untuk atasi kesulitan yang
dihadapinya.
Oleh karena itulah... sering kita dapati
sebagian orang, mau berletih-letih dan berpayah-payah mengumpulkan dana dan
barang-barang yang bermanfaat, untuk diberikan kepada saudara-sadaranya yang
membutuhkan, meskipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Padahal...
pekerjaan itu sangatlah berat, dan mereka juga tidak mengharapkan upah
sedikitpun, hal ini dilakukan karena ada kebahagiaan yang ia dapatkan. Allah-lah
yang telah memasukkan kebahagiaan dalam dirinya.
Oleh
karenanya manusia yang paling berbahagia di muka bumi ini adalah Nabi SAW.
Mengapa? Karena Beliau adalah orang yang paling memikirkan bagaimana caranya
membahagiakan orang lain.
Allah
SWT berfirman :
لَقَدْ
جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh
telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah)
Rasulullah
merasa berat hatinya penderitaan para sahabatnya, penderitaan kaum muslimin
secara umum, beliau menginginkan keimanan dan keselamatan bagi para sahabatnya
dan umat beliau seluruhnya.
Ummul
mukminin, Kahdijah radhiallahu ‘anha juga pernah memuji sifat suaminya
ini, ketika Rasulullah SAW merasa takut bahwa dirinya terancam saat
menerima wahyu pertama,
كَلَّا
أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Janganlah
begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu,
selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali
persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang
yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR.
Al-Bukhari no. 4572 dan Muslim no. 231)
Inilah
sifat dasar Nabi SAW bahkan sebelum Beliau menerima wahyu. Khadijah
menyebutkan beberapa sifat suaminya, yang kesemuanya menunjukkan bahwa beliau
selalu berusaha membuat orang lain berbahagia; menyambung silaturahmi, jujur,
memikul beban orang lain, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan
mendukung kebenaran.
No comments:
Post a Comment