MATERI KHUTBAH
NIKMAT DAN ADZAB KUBUR
Muqadimah... Ungkapan Syukur... Shalawat dan Salam...
Wasiat Iman dan Taqwa...
Saudara-saudaraku kaum muslimin jama’ah jum’ah Rahimakumullah,
Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan
oleh Allah …
Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari sahabat Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
إِنّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتَوَلّىَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ:
مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرّجُلِ ؟
أَشْهَدُ أَنّهُ عَبْدُ اللّهِ وَرَسُولُهُ. قَالَ:
فَيُقَالُ لَهُ:
“انْظُرْ إِلَىَ مَقْعَدِكَ مِنَ النّارِ.
قَدْ أَبْدَلَكَ اللّهُ بِهِ مَقْعَداً مِنَ الْجَنّةِ” قَالَ نَبِيّ اللّهِ صلى الله عليه وسلم:
“فَيَرَاهُمَا جَمِيعاً”.
“Sesungguhnya seorang hamba bila diletakkan di dalam
kuburnya dan para pengantarnya telah kembali pulang, sunggguh dia akan
mendengarkan gesekan sandal-sandal mereka. Datang kepadanya dua malaikat, maka
keduanya mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu tentang orang
ini (yakni nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)? Adapun seorang
yang mukmin akan menjawab, ’Aku bersaksi bahwasanya dia adalah hamba Allah dan
Rasul-Nya’. Maka dinyatakan kepadanya, ‘Lihatlah kepada tempatmu di neraka,
sungguh telah digantikan oleh Allah dengan sebuah tempat di surga.” Maka Nabi
Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian dia melihat kedua tempat
tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ma’asyirol
muslimin rohimakumullah…
Hadits ini menceritakan kepada kita bagaimana
‘pertanyaan yang terjadi di alam kubur’. Adapun orang-orang yang beriman akan
dikokohkan oleh Allah sewaktu mereka ditanya di dalam kubur masing-masing.
Itulah yang dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Quran yang mulia:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman
dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”
(Ibrahim: 27)
Permulaan dari alam akhirat adalah alam barzakh (alam
kubur). Oleh karena itu, seorang yang beriman akan dikokohkan oleh Allah untuk
menjawab pertanyaan kubur, sebagaimana di dalam hadits yang telah lalu.
Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dari
hadits Al-Bara’ bin ‘Azib rahimahullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
(الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ: يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. فَذَلِكَ قَوْلُهُ:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ)
“Seorang hamba yang muslim bila ditanya di dalam
kuburnya, niscaya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak
diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan
Allah. Maka itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: ‘ Allah meneguhkan
(iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di
dunia dan di akhirat’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Allah mudahkan baginya untuk menjawab pertanyaan kubur
dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ’Laa Ilaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah. Perkara yang akan ditanyakan oleh dua malaikat kepada
seorang hamba yang baru saja meninggal, bila telah selesai dikuburkan, ada tiga
hal:
Pertama: (مَنْ رَبُّكَ)
:“Siapa Rabbmu”
Kedua: (وَمَا دِيْنُكَ);
“Apa agamamu”
Ketiga: (وَمَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِيْ بُعِثَ فِيْكُم) :“Siapa orang yang
telah diutus di antara kalian ini?”
Maka seorang yang mukmin akan menjawab: “Rabku adalah
Allah, agamaku adalah Islam, sedangkan orang ini adalah Muhammad utusan Allah.”
Lalu ditanyakan kepadanya: “Apa yang memberitahumu mengenai jawaban ini?” Dia
menjawab: “Aku membaca Al-Qur’an, beriman kepadanya, dan membenarkannya.”
Dengan demikian, seorang yang mukmin selamat dari siksa kubur karena bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya itu. Berbeda dengan seorang yang kafir ketika ditanya: “Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Dia hanya bisa menjawab: “Ha..ha.. aku tidak tahu.” Inilah keadaan seorang yang kafir sewaktu ditanya di dalam kuburnya.
Dengan demikian, seorang yang mukmin selamat dari siksa kubur karena bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya itu. Berbeda dengan seorang yang kafir ketika ditanya: “Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Dia hanya bisa menjawab: “Ha..ha.. aku tidak tahu.” Inilah keadaan seorang yang kafir sewaktu ditanya di dalam kuburnya.
Itulah fitnah kubur, yaitu pertanyaan dua malaikat
yang dihadapkan kepada seorang yang baru saja meninggal. Dua malaikat yang
menanyai seorang yang baru saja meninggal disebut dengan Munkar dan Nakir.
Sebagaimana hal ini terdapat di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
yang dikeluarkan oleh Imam At-Turmudzi dengan sanad yang hasan, bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ، أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ. يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيْرُ
“Apabila seorang hamba telah diletakkan di dalam
kuburnya, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya
disebut Al-Munkar dan yang lain disebut An-Nakir.” (HR. At-Turmudzi dan dihasankan oleh syaikh Al AlBani dalam tahqiqnya atas
”Syarh Aqidah Thahawiyyah” hal. 399)
Maka ini adalah nama dua malaikat yang akan menanyai
seorang yang baru saja dikubur. Keduanya akan bertanya tentang “Siapa Rabmu,
apa agamamu, dan siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Seorang
yang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka dia akan
memperoleh nikmat kubur. Adapun seorang yang kafir, ketika tidak bisa
menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah…
Di sini para ulama berselisih pendapat: Apakah
pertanyaan kubur hanya khusus pada umat ini atau juga umum pada umat-umat yang
sebelumnya?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur berlaku umum pada seluruh umat dari yang pertama sampai yang terakhir. Pendapat ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah di dalam kitabnya ”Syarh Lum’atil I’tiqod”( hal. 112)
Kemudian terjadi pula perselisihan di kalangan para ulama: Apakah pertanyaan ini bagi orang-orang yang mukallaf saja atau juga bagi orang-orang yang tidak mukallaf seperti anak kecil dan orang gila yang meninggal?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur berlaku umum pada seluruh umat dari yang pertama sampai yang terakhir. Pendapat ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah di dalam kitabnya ”Syarh Lum’atil I’tiqod”( hal. 112)
Kemudian terjadi pula perselisihan di kalangan para ulama: Apakah pertanyaan ini bagi orang-orang yang mukallaf saja atau juga bagi orang-orang yang tidak mukallaf seperti anak kecil dan orang gila yang meninggal?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa
pertanyaan kubur mencakup semuanya. Baik yang mukallaf atau tidak mukallaf.
Maka pertanyaan kubur itu juga diarahkan bagi anak kecil dan orang gila yang
meninggal, karena keumuman dalil-dalil yang berbicara tentang pertanyaan kubur.
Demikian pula dikuatkan dengan dalil bahwa anak kecil atau orang gila yang
meninggal dari kalangan muslimin, diperintahkan kepada kita untuk menshalatkan
dan mendoakannya agar dilindungi oleh Allah dari adzab kubur. Hal ini
menunjukkan bahwa mereka juga mendapatkan ‘pertanyaan kubur’.
Oleh sebab itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ar-Ruh yang dinisbatkan kepada beliau, menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa pertanyaan kubur berlaku secara umum, baik bagi yang mukallaf maupun tidak.
Oleh sebab itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ar-Ruh yang dinisbatkan kepada beliau, menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa pertanyaan kubur berlaku secara umum, baik bagi yang mukallaf maupun tidak.
Adapun mengenai pertanyaan kubur: Apakah khusus bagi
kaum mukminin saja atau juga umum meliputi orang-orang kafir? Menurut pendapat
yang paling kuat dikalangan para ulama, bahwa pertanyaan kubur meliputi kaum
mukminin dan orang-orang kafir secara umum. Banyak dalil dari Al-Qur’an maupun
As-Sunnah yang mengasumsikan kepada kita bahwa orang-orang kafir juga akan
ditanya oleh dua malaikat di dalam kubur mereka. Di antaranya adalah hadits
yang telah kita bacakan sebelumnya yaitu hadits Al-Bara’ bin ’Azib yang
dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu, Dawud, An Nasai, Ibnu Majah dan yang
selainnya.
Wallahu a’lam bish shawab
Wallahu a’lam bish shawab
Khutbah yang kedua
Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan
oleh Allah . . .
Yang mendapatkan pengecualian dari pertanyaan kubur
adalah ‘orang yang mati syahid’. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam
sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam An-Nasai dengan sanad yang shahih.
Bahwa salah seorang dari sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam datang
kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai
Rasulullah! kenapa seluruh kaum mukminin diuji di dalam kuburnya kecuali orang
yang mati syahid?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنُةً
“Cukuplah kilatan pedang yang berada di atas kepalanya
sebagai ujian tersendiri”. (HR. An-Nasai dan
dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitabnya ”Ahkamul Janaiz” hal. 36)
Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid
tidak diuji, yakni tidak ditanya oleh dua orang malaikat di dalam kuburnya.
Maka ini merupakan pengecualian. Pengecualian yang lain adalah orang yang
meninggal ketika berada di front terdepan untuk berjaga-jaga dalam jihad fi
sabilillah. Kondisi ini diistilahkan dengan “Al-Murobith fi sabilillah”. Maka
orang yang demikian ini, bila meninggal tidak akan ditanya di dalam kuburnya.
Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim
dari sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu ’anhu.
Sekeluarnya dari fitnah kubur, seorang yang meninggal akan memasuki fase yang disebut dengan nikmat kubur atau adzab kubur. Seorang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia memperoleh nikmat kubur.
Sekeluarnya dari fitnah kubur, seorang yang meninggal akan memasuki fase yang disebut dengan nikmat kubur atau adzab kubur. Seorang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia memperoleh nikmat kubur.
Kemudian datang seruan dari langit: “hamba-Ku ini
telah benar, Bentangkanlah untuknya permadani dari surga dan bukakanlah sebuah
pintu ke surga”. Harum wangi surga pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh
mata memandang. Lalu datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya, pakainnya,
dan harum wanginya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan
menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si
mukmin bertanya kepadanya, siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang
dengan membawa kebaikan. Dia pun menjawab, aku adalah amalmu yang sholih. Lalu
si mukmin berkata, wahai Robbku! Segerakanlah hari kiamat agar aku kembali
kepada keluarga dan hartaku”.
Adapun seorang yang kafir ketika tidak bisa menjawab
pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia dihadapkan kepada adzab
kubur. Kemudian datang seruan dari langit: “dia telah berdusta, bentangkanlah
untuknya permadani dari api neraka dan bukakanlah sebuah pintu ke neraka.
Sehingga hawa panas dan racun neraka pun menerpanya dan kuburnya di persempit
sampai tulang-tulang rusuknya saling bergeser. Lalu datang kepadanya seorang
yang buruk wajahnya, pakainnya, dan busuk baunya. Orang itu berkata,
bergembiralah dengan segala yang akan memperburuk keadanmu. Ini adalah hari
yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si kafir bertanya, siapakah engkau?
Wajahmu dalah wajah yang datang dengan membawa keburukan. Dia pun menjawab, aku
adalah amalmu yang buruk. Lalu si kafir berkata, wahai Robku! Janganlah engkau
datangkan hari kiamat”.
Itulah keadaan seorang yang mukmin dan seorang yang
kafir setelah ditanya di dalam kuburnya. Seorang yang kafir disiksa karena
tidak bisa menjawab pertanyaan kubur. Namun bukan berarti bahwa setiap mukmin
pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin yang bermaksiat kepada
Allah berkemungkinan merasakan adzab kubur, bila Allah tidak berkehendak
mengampuni dosanya.
Hal ini diperkuat dengan sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
Hal ini diperkuat dengan sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
إِنّهُمَا لَيُعَذّبَانِ، وَمَا يُعَذّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، ، وَأَمّا الاَخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنّمِيمَةِ
”Orang-orang yang berada di dalam dua kubur ini,
sungguh sedang disiksa. Dan tidaklah keduanya disiksa karena suatu masalah yang
besar. Adapun salah satu dari keduanya, dahulu tidak mau menjaga diri dari air
kencing. Sedangkan yang lain, dahulu biasa berjalan untuk mengadu domba”. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Beliau meletakkannya di masing-masing dua kubur ini dengan harapan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingan siksa keduanya, selama pelepah kurma itu masih basah dan belum kering.
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah…
Apakah adzab kubur akan berlangsung sampai terjadinya
hari kiamat atau disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa ?
Jawabnya: di antara adzab kubur ada yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat dan ada pula yang disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa.
Yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat adalah adzab kubur bagi orang-orang yang kafir. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menyatakan tentang Fir’aun dan bala tentaranya:
Jawabnya: di antara adzab kubur ada yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat dan ada pula yang disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa.
Yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat adalah adzab kubur bagi orang-orang yang kafir. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menyatakan tentang Fir’aun dan bala tentaranya:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang,
serta pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah
Fir`aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. (Al-Mukmin (Ghafir): 46)
Dari ayat ini, ulama menyimpulkan bahwa adzab kubur
bagi orang-orang yang kafir akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat.
Dalil yang lain adalah hadits Al-Bara` bin ’Azib yang sebelumnya telah kita bacakan, pada sebuah riwayatnya disebutkan: “Bahwasanya tatkala seorang yang kafir tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka kepadanya dinampakkan tempatnya di dalam neraka, dan perkara ini akan berlangsung sampai hari kiamat”.
Dalil yang lain adalah hadits Al-Bara` bin ’Azib yang sebelumnya telah kita bacakan, pada sebuah riwayatnya disebutkan: “Bahwasanya tatkala seorang yang kafir tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka kepadanya dinampakkan tempatnya di dalam neraka, dan perkara ini akan berlangsung sampai hari kiamat”.
Adapun adzab kubur yang berlangsung sesuai dengan
kadar dosa orang yang disiksa adalah adzab kubur yang ditimpakan kepada para
pelaku dosa besar. Allah akan menyiksanya di dalam kubur sesuai dengan kadar
dosanya, kemudian akan diperingan dan tidak akan berlangsung sampai terjadi
hari kiamat.
No comments:
Post a Comment