DIABETES
MILITUS
A.
KONSEP
PENYAKIT
1.
Definisi
Diabetes Mellitus (DM) adalah
penyakit gangguan metabolik menahun yang ditandai dengan peningkatan kadar gula
darah (Hiperglikemia), yang dikarenakan kurangnya produksi insulin dalam tubuh
atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif (Riskesdas, 2013).
Diabetes
Mellitus
adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik
hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua–duanya (Gustaviani, 2006)
Diabetes mellitus merupakan
penyakit yang banyak mengeluarkan urine dengan kadar glukosa yang tinggi, dan
ditandai dengan ketiadaan absolut insulin atau penurunan insentivitas sel
terhadap insulin (Corwin, 2009).
2.
Etiologi
a.
DM Tipe I
Melalui proses imonologik dimana tubuh tidk bias menghasilkan insulin Karena sel beta pancreas dirusak oleh system autoimun.
Melalui proses imonologik dimana tubuh tidk bias menghasilkan insulin Karena sel beta pancreas dirusak oleh system autoimun.
b.
DM Tipe II
a). Obesitas
b). Gaya hidup
c). Usia
d). Infeksi toxin, virus
a). Obesitas
b). Gaya hidup
c). Usia
d). Infeksi toxin, virus
c.
DM tipe lain
a). Defek genetic fungsional sel beta
Kromosom 12, HNF – 1 α (dahulu MODY 3)
Kromosom 7, glukokinase (dahulu MODY 2)
Kromosom 20, HNF – 4 α (dahulu MODY 1)
Kromosom 13, insulin prometer factor (IPF – 1, dahulu MODY 4)
Kromosom 17, HNF – 1 β (dahulu MODY 5)
Kromosom 2, Neuro D1 (dahulu MODY 6)
DNA mitcohondria, dan lain –lain.
b). Defek genetic kerja insulin : resistensi insulin tipe A, leprechaunrism sindrom Robson Mendenhall, diabetes lipoatropik.
c).Penyakit endokrin pankreas : pankreatitis, trauma/pankreatomi, neuplasma, fibrosis kristik, hemakromatosis, pankreotopati fibrokalkulus.
d). Endokrinopati : akromegali, sindrom cushing, feokromatisoma, hipertiroidisme, aldosteronoma
e). Karena obat/ zat kimia : vector, pentanidin, asam nikotinat,glukokortiroid, hormon tiroid, diazoxin,agonis β, andrenegik, Tiazid, dilatin.
f). Infeksi : rubella sanginetal, CMV.
g).Imunologi ( jarang ).
h). Sindrom genetic lain.
a). Defek genetic fungsional sel beta
Kromosom 12, HNF – 1 α (dahulu MODY 3)
Kromosom 7, glukokinase (dahulu MODY 2)
Kromosom 20, HNF – 4 α (dahulu MODY 1)
Kromosom 13, insulin prometer factor (IPF – 1, dahulu MODY 4)
Kromosom 17, HNF – 1 β (dahulu MODY 5)
Kromosom 2, Neuro D1 (dahulu MODY 6)
DNA mitcohondria, dan lain –lain.
b). Defek genetic kerja insulin : resistensi insulin tipe A, leprechaunrism sindrom Robson Mendenhall, diabetes lipoatropik.
c).Penyakit endokrin pankreas : pankreatitis, trauma/pankreatomi, neuplasma, fibrosis kristik, hemakromatosis, pankreotopati fibrokalkulus.
d). Endokrinopati : akromegali, sindrom cushing, feokromatisoma, hipertiroidisme, aldosteronoma
e). Karena obat/ zat kimia : vector, pentanidin, asam nikotinat,glukokortiroid, hormon tiroid, diazoxin,agonis β, andrenegik, Tiazid, dilatin.
f). Infeksi : rubella sanginetal, CMV.
g).Imunologi ( jarang ).
h). Sindrom genetic lain.
d.
Diabetes kehamilan
Biasaya karena herideter.
(Gustaviani, 2006)
Biasaya karena herideter.
(Gustaviani, 2006)
3.
Manifestasi
Klinik
Adanya keluhan khas yang dirasakan
ketika sudah terjadi diabetes mellitus. Keluhan khas tersebut yaitu banyak
kencing (polyuria), banyak minum (polydipsia), banyak makan (polyphagia), dan
disertai dengan pemeriksaan gula darah yang lebih dari normal (gula darah
sewaktu = 200 mg/dl, atau gula darah puasa = 126 mg/dl). Selain keluhan khas
tersebut bnyak tanda yang terjadi dari kesemutan, lemah, gatal, mata kabur,
pruritus, disfungsi ereksi (Sidartwan, 2005).
Menurut Smeltzer
(2002)
Ada 3 Kriteria yang digunakan untuk diagnosa laboratorium diabetes mellitus :
a. Konsentrasi
glukosa plasma vena puasa (semalam) 126 mg/dL atau lebih dari satu kali
pemeriksaan.
b. Gejala
klinis diabetes dan kadar glukosa sewaktu 200 mg/dL atau lebih.
c. Setelah
ingesti 75 g glukosa, konsentrasi glukosa plasma vena 2 jam 200 mg/dL atau
lebih.
4.
Komplikasi
Kelebihan kadar gula darah yang
terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf dan
pembuluh darah. Muncul banyak konsekuensi dari diabetes, yang sering terjadi
seperti meningkatnya resiko jantung dan juga stroke, neuropati (kerusakan
syaraf) dikaki yang mengakibatkan ulkus kaki, retinopati diabetikum terjadi
karena kerusakan pembuluh darah kecil diretina yang menyebabkan kebutaan, gagal
ginjal, dan juga resiko kematian. Pada umumnya penderita diabetes mellitus
resiko kematiannya menjadi dua kali lipat dibanding bukan penderita diabetes (Permana,
2008).
5.
Patofisiologi
Dan Pathway
Diabetes tipe I. Pada diabetes tipe
satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta
pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemi puasa terjadi
akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu glukosa
yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada
dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam
darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang
tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria).
Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urin, ekskresi ini akan
disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini
dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan,
pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus
(polidipsia).
Defisiensi insulin juga akan
menggangu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan.
Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia), akibat
menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam
keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang
disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam
amino dan substansi lain), namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini
akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan
hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan
peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak.
Badan keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila
jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat menyebabkan
tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi,
nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan
kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama cairan dan
elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik
tersebut dan mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan
disertai pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang
penting.
Diabetes tipe II. Pada diabetes
tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat
dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin
dengan resptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme
glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan
penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif
untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin
dan untuk mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan
jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu,
keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa
akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun
demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan
insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe II,
namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah
pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu
ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikian,
diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya
yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketoik (HHNK).
Diabetes tipe II paling sering
terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas.
Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan
progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika
gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat
mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsi, luka pada kulit yang
lama sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadra
glukosanya sangat tinggi) (Corwin,2009).
Pathwa

6.
Petanalaksanaan
Tujuan
penatalaksanaan diabetes mellitus jangka panjang adalah untuk mencegah
terjadinya komplikasi, sedangkan dalam jangka pendek untuk menghilangkan
keluhan/gejala diabetes. Berikut ini macam penataksanaan diabetes meliputi :
a. Diet
Penghimpunan Diabetes dan Persatuan
Diabetik Amerika merekomendasikan 50-60% kalori berasal dari karbohidrat 60%,
Protein 12-20%, Lemak 20-30%.
b. Obat
Hipoglikemik Oral (OHO)
a) Sulfonilurea
: menstimulasi pengelapasan insulin yang tersimpan, menurunkan ambang sekresi
insulin, meningkatkan sekresi insulin.
b) Biguanid
: menurunkan kadar gula dalam darah tapi tidak sampai dibawah normal.
c) Inhibitor
α glukosidase : menghambat kerja enzim α glkosidase didalam saluran ceran
sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia.
d) Insulin
sensiting agent : Thoazahdine diones meningkatkan sensitivitas insulin, seingga
bisa mengatasi masalah resistensi insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia.
e) Insulin
dengan indikasi diabetes dengan berat badan menurun dengan cepat, ketoasidosis
asidosis laktat dengan koma hiperosmolar, diabetes dengan kehamilan atau
diabetes gestasional yang tidak terkendali dalam pola makan. Insulin
oral/suntikan dimulai dari dosis yang lebih rendah lalu dinaikkan perlahan
sesuai dengan hasil pemeriksaan gula darah paisen.
c. Latihan
Latihan dengan melawan ketahanan
yang dapat menurunkan stress, dapat menurunkan BB, menyegarkan tubuh, gunakan
alas kaki yang tepat.
d. Pemantauan
Pemantauan kadar gula darah secara
mandiri
B.
ASUHAN
KEPERAWATAN
1.
Pengkajian
Fokus utama pengkajian pada klien Diabetes Mellitus
adalah melakukan pengkajian dengan ketat terhadap tingkat pengetahuan dan
kemampuan untuk melakukan perawatan diri. Pengkajian secara rinci adalah
sebagai berikut
a. Riwayat atau adanya faktor resiko, Riwayat
keluarga tentang penyakit, obesitas, riwayat pankreatitis kronik, riwayat
melahirkan anak lebih dari 4 kg, riwayat glukosuria selama stress (kehamilan,
pembedahan, trauma, infeksi, penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid,
diuretik tiasid, kontrasepsi oral).
b. Kaji terhadap manifestasi Diabetes Mellitus:
poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, pruritus vulvular,
kelelahan, gangguan penglihatan, peka rangsang, dan kram otot. Temuan ini
menunjukkan gangguan elektrolit dan terjadinya komplikasi aterosklerosis.
c.
Pemeriksaan Diagnostik
1) Tes
toleransi Glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari 200mg/dl). Biasanya, tes
ini dianjurkan untuk pasien yang menunjukkan kadar glukosa meningkat dibawah
kondisi stress.
2) Gula
darah puasa normal atau diatas normal.
3) Essei
hemoglobin glikolisat diatas rentang normal.
4) Urinalisis
positif terhadap glukosa dan keton.
5) Kolesterol
dan kadar trigliserida serum dapat meningkat menandakan ketidakadekuatan
kontrol glikemik dan peningkatan propensitas pada terjadinya aterosklerosis.
d.
Kaji pemahaman pasien tentang kondisi,
tindakan, pemeriksaan diagnostik dan tindakan perawatan diri untuk mencegah
komplikasi.
e.
Kaji perasaan pasien tentang kondisi
penyakitnya.
2.
Diagnosa
Keperawatan
a.
Gangguan inetgritas kulit bdulkus DM
b.
Nyeri
bdagencidera
biologis
c.
Kekurangan volume cairan dehidrasi
d.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan polidipsi / polifagia
e.
Resiko injury .gangguan penglihatan
f.
Resiko infeksi bdlukaganggren
g.
Ketidak
efektifan
perfusi jarigan periferbd ketidak sesuaian antara ventilasi dan aliran darah
h.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan
kelemahan umum
i.
Hepertermia berhubungan dengan dehidrasi
3.
Intervensi
No
|
Diagnose keperawatan
|
Tujuan dan
criteria hasil (NOC)
|
Intervensi
(NIC)
|
1
|
Gangguan
inetgritas kulit.
|
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jm
diharapkan
pasien
dapat :
Outcome
Kontrol
resiko proses infeksi
Criteria:
-
Memonitor kebiasaan individu yang terkait faktor resiko infeksi
-
Strategi pengawasan infeksi yang efektif dapat dilakukan
-
Mengetahui akibat jika terjadi infeksi
|
1.
Identifikasi faktor ekternal dan internal yang membuat pasien termotivasi
untuk menjaga kesehatan nya
2.
Ajarkan klien cara yang dapat digunakan untuk menghindari kebiasaan yang
tidak sehat
3.
Monitor bagian kerusakan terhadap adanya edema
4.
Instruksikan klien pentingnya inspeksi daerah luka
5.
Batasi pengunjung
6.
Diskusikan pad pasien untuk rutinitas perawatan kaki
7.
Tempatkan klien diruang khusus jika perlu
8.
Perhatikan peningkatan aktivitas dan latihan
9.
Perhatikan istirahat klien
10.
Ajarkan klien dan keluarga bagaimana menghindari infeksi
11.
Informasikan kepada keluarga tanda dan gejala infeksi
12.
Instruksikan klien untuk memakan antibiotik yg telah ditentukan
13.
Lakukan tindakan asepsis
|
2
|
Nyeri
akutbdagenciderabiologis
(lukaganggren)
|
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jm
diharapkan
pasien
dapat :
Pain control
Kh:
·
Dapat mengidentifikasi
nyeri
·
Dapat mengontrol nyeri
·
Raut muka tidak meringis
|
1.
Mempertimbangkan kebudayaan klien ketika melakukan perwatan
2.
Mempertimbangkan usia klien
3.
Monitor kemampuan klien untuk perawatn diri mandiri
4.
Monitor kebutuhan klien terhadap kebersihan diri, pakaian,dan makan
5.
Beri dukungan hingga klien mampu melakukan aktivitas sendiri
6.
Dorong pasien untuk menunjukkan aktivitas keseharian yg normal
7.
Kaji kebutuhan yang memerlukan bantuan
8.
Bina aktivitas keseharian klien sehari hari
|
3.
|
Kekurangan
volume cairan
|
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jm
diharapkan
pasien
dapat :
v Fluid balance
v Hydration
v
Nutritional Status : Food and Fluid Intake
Kriteria
Hasil :
v Mempertahankan urine output sesuai dengan
usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
v Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas
normal
v Tidak ada tanda tanda dehidrasi,
Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus
yang berlebihan
|
Fluid
management
·
Timbang popok/pembalut jika diperlukan
·
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
·
Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
darah ortostatik ), jika diperlukan
· Monitor vital sign
· Monitor masukan makanan / cairan dan
hitung intake kalori harian
· Kolaborasikan pemberian cairan IV
· Monitor status nutrisi
· Berikan cairan IV pada suhu ruangan
· Dorong masukan oral
· Berikan penggantian nesogatrik sesuai
output
·
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
·
Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
·
kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
· Atur kemungkinan tranfusi
· Persiapan untuk tranfusi
|
4.
|
Gangguan
nutrisi kurang dari kebutuhan
|
v Nutritional Status : food and Fluid Intake
v Nutritional Status : nutrient Intake
Kriteria
Hasil :
v Adanya peningkatan berat badan sesuai
dengan tujuan
v Beratbadan ideal sesuai dengan tinggi badan
v Mampumengidentifikasi kebutuhan nutrisi
v Tidk ada tanda tanda malnutrisi
v Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan
dari menelan
v Tidak terjadi penurunan berat badan yang
berarti
|
Nutrition
Management
1.
Kaji adanya alergi makanan
2.
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
3.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5.
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
6.
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
7.
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
8.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
9.
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
|
5.
|
Resiko
injury
|
Outcome
: tingkat glukosa darah
Kriteria
:
1.
Keton urin
2.
Glukosa urin
|
1.
Monitor glukosa darah
2.
Monitor keton urin sebagai indikasi
3.
Monitor status cairan
4.Bantu
pemasukan intake cairan
5.Identifikasikemungkinan
penyebab hyperglikemia
6.Instruksiakn
pemeriksan keton urin, jika diperlukan
7.Antisipasi
situasi peningkatan kebutuhan insulin
8.Kaji
pasien terhadap tingkat kenaikan glukosa darah
9.Membatasi
aktivitas klien ketika glukosa darah >250 mg/dl, terutama ketika ditemukan
keton urin
|
6.
|
Resiko
infeksi
|
v Immune Status
v Knowledge : Infection control
v Risk control
Kriteria
Hasil :
v Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
v Menunjukkan kemampuan untuk mencegah
timbulnya infeksi
v Jumlah leukosit dalam batas normal
v Menunjukkan perilaku hidup sehat
|
infection
Control (Kontrol infeksi)
1.
Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2.
Pertahankan teknik isolasi
3.
Batasi pengunjung bila perlu
4.
Instruksikanpadapengunjung untuk mencuci tangan
5.
Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
6.
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
7.
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
8.
Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
9.
Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk
umum
10.
Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
11.
Tingktkan intake nutrisi
dan
local
12.
Berikan terapi antibiotic bila perlu Infection Protection (proteksi terhadap
infeksi)
13.
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
14.
Monitor hitung granulosit, WBC
15. Monitor kerentanan terhadap infeksi
16.
Saring pengunjung terhadap penyakit menular
17.
Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresik0
18.
Pertahankan teknik isolasi k/p
19.
Berikan perawatan kuliat pada area epidema
20.
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
21.
Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
22.
Dorong masukkan nutrisi yang cukup
23.
Dorong masukan cairan
24.
Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
25.
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
26.
Ajarkan cara menghindari infeksi
27.
Laporkan kecurigaan infeksi
28.
Laporkan kultur positif
|
7
8
9.
|
a.
Ketidak efektifan perfusi jarigan periferbd ketidak sesuaian antara ventilasi dan aliran darah
Intoleransi
aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
Hipertermia
berhubungan dengan dehidrasi
|
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jm
diharapkan
pasien
dapat :
Menunjukkan
keadekuatan
aliran darah
Menunjuk
kan
keseimbangan
cairan
dan
perfusi
jaringan
perifer
Setrelah
dilakukan tindakan keperawartan 3x 24 jam pasien dapat menunjukkan
1. toleransi
terhadap aktifitas
2. Pasien
dapat menyeimbangkan energi dengan dalam aktifitas
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3X 24 jam termoregulasi normal dengan KH :
1. Suhu
kulit normal
2. Nadi
normal
3. Pernafasan
normal
4. Tidak
ada dehidrasi
|
Manajement
sensasi
perifer:
Kaji
sirkulasi
perifer
Pantau
tingkat ketidak nyamanan
Pantau rasa kebas,
keemutan
Anjurkan
pasien selalu memeriksa kulit setiap hari
1.Kaji kemampuan asien untuk pindah dari tempat
tidur, berdiri, ambulasi, dan melakukan ADL
2. Evaluasi motivasi dan keingginan pasien untuk
abulasi
3. Tentukan penyebaba kelemahan
4. pantau respon kardiorespiratori terhadap
aktifitas
5.instruksikan pasen dan keluaga untuk mengenali
tana intoleransi aktifitas
1. Pantau
tekanan darah , nadi, respirasi, suhu tubuh tiap 8 jam.
2. Anjurkan
memakai pakaian yang tipis
3. Hindari
memakai selimut tebal
4. Ajarkan
keluarga untuk mengukur suhu ketiak
5. Berikan
kompres hangat
6. Berikan
obat antipiretik sesuai program medis
|
4. Evaluasi
b.
Gangguan inetgritas kulit bdulkus DM
S: pasien mengatakan lukanya berangsur sembuh
O:luka pasien sembuh
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
c.
Nyeri
bdagenciderabiologis
S: pasien mengatakan sudah tidak nyeri
O:pasien tidak tampak nyeri
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
d.
Kekurangan volume cairan dehidrasi bd kegagalan mekanisme pengaturan
S: pasien mengatakan tidak lemes
O:pasien tampak bugar
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
e.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan polidipsi / polifagia
S: pasien mengatakan makan mau banyak
O:pasien tampak sedang makan ,mkan 1 porsi
habis
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
f.
Resiko injuryb.dgangguan penglihatan
S: pasien mengatakan selalu berhati hati
O:pasien tampak berhati hati melakukan kegiatan
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
g.
Resiko infeksi bdlukaganggren
S: pasien mengatakan tidak nyeri pada bekas luka
O:tidak tampak tanda tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
h.
Ketidak
efektifan
perfusi
jarigan
perifer
bd
ketidak
sesuaian
antara
ventilasi
dan
aliran
darah
S: pasien mengatakan badannya terasa segar, tidak pusing
O:pasien terlihat segar, peredaran
darahnya
lancar
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
I Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan kelemahan umum
S ; pasien mengatakan badan sudah terasa
enak
O:
Pasien terlihat dudukdi tempat tidur
TTV sebelum dan setelah
aktifitas normal
A.
masalah teratasi
P. pertahankan
intervensi.
J. hipertermia
berhubungn dengan dehidrasi
S : Pasien mengatakan
badan tidak terasa panas
O
: suhu 36 derajad celcius
A:
intervensi berhasil
P: Stop intervensi
No comments:
Post a Comment