Materi
khutbah
MEMAHAMI TAKDIR SECARA ADIL
Muqadimah...
Ungkapan Syukur... Shalawat dan Salam... Wasiat Iman dan Taqwa...
Saudara-saudaraku... Bagi sebagian
orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini banyak
di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua kutub
kesesatan yang saling berlawanan, yaitu :
1]. Kesesatan
Jabariyah : Golongan yang berlebihan dalam masalah takdir, hingga menganggap
bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat,
semua serba dipaksa oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat
dikendalikan oleh pemiliknya.
2]. Kesesatan
Qadariyah : Golongan yang berlebihan menolak takdir, hingga semua kegiatan
manusia tidak dicampuri oleh Allah Azza wa
Jalla dan kehendak-Nya. Mengapa demikian..? Sebab, dalam memahami
takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak pada azas logika. Padahal masalah
takdir termasuk perkara ghaib, yang tidak akan dapat dijangkau secara detail
dan kongkrit hanya berdasarkan logika. Untuk itulah saudaraku, agar kita semua
paham dan memahami, jum’at ini akan saya sampaikan khutbah dengan judul :
Memahami Takdir secara Adil
Saudara-saudaraku... Bukan wilayah
logika untuk memahami takdir dengan tuntas, Ia harus dipahami berdasarkan wahyu
dan keimanan. Bahkan, ketika takdir sudah terjadi-pun, kadang orang tidak mampu
menangkap hikmah yang terkandung di baliknya. Yang pasti, takdir Allah Azza wa Jalla harus di-imani
sebagaimana orang meng-imani ketetapan syariat-Nya. Keduanya merupakan
ketetapan Allah SWT, ketika
orang menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah SWT dan meng-imaninya, misalnya syariat shalat, siapapun
termasuk kita juga harus meng-imani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya takdir
hidup, mati, laki-laki, perempuan, sehat, sakit, kaya, miskin, dan
takdir-takdir lainnya. Karena, semuanya berasal dari Allah SWT, Pencipta alam semesta dan
penetap syariat bagi sekalian hamba-Nya.
Iman
kepada takdir merupakan salah satu rukun dan azas ke-imanan di antara rukun
Iman yang enam. Sehingga,
barang siapa yang mengingkari takdir,
maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.
Saudara-saudaraku... Rasulullah SAW
ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang Iman, Beliau SAW bersabda : Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan beriman kepada takdir baik
maupun takdir buruk. (HR. Muslim).
Mendasarkan
pada hadits diatas, orang yang beriman adalah
Orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada rukun-rukun iman lainnya.
Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan kehendak Allah Azza wa Jalla. Iman kepada takdir,
tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun iman yang lain.
Semua saling terkait erat, maka siapapun yang ber-iman kepada Allah SWT, kepada para malaikat-Nya, para
rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan hari akhir, harus pula ber-iman kepada takdir.
Sebagaimana
halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza wa
Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah
yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus
sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha
menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau
perasaan orang yang serba terbatas.
Sama
halnya ketika orang meng-imani Allah SWT,
nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan wahyu. Demikian pula, ketika siapapun
menjalankan dan meng-imani syariat, juga harus sesuai dengan petunjuk wahyu.
Dan di antara wahyu Allah SWT
adalah Sunnah Rasulullah SAW,
sebab Beliau adalah utusan-Nya yang dipercaya untuk menerima dan menyampaikan
wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun Sunnah. Sesuai dengan sabda-Nya :
Ketahuilah,
sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah)
didatangkan bersamanya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits
ini menunjukkan bahwa, ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah
Nabi SAW
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya
seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus
memahami dan mengimani empat peringkat takdir secara benar, yaitu :
Pertama,
Meng-imani
bahwa, Allah SWT
Maha mengetahui segala sesuatu yang belum terjadi.
Kedua,
Meng-imani
bahwa, Allah SWT
menuliskan semuanya di Lauh Mahfuzh sesuatu yang bakal terjadi.
Ketiga,
Meng-imani
bahwa, Allah SWT
Maha menghendaki kejadian dan segala sesuatu yang terjadi.
Keempat,
Meng-imani
bahwa, Allah SWT
Maha mengetahui segala sesuatu yang dicipkatan dan ditetapkan-Nya.
seperti
dinyatakan oleh para Ulama.
Imam
Ibnu al-Qayyim rahimahullah
dalam kitabnya, Syifa’ul
‘Alil, menyatakan : Barangsiapa
tidak mengimani peringkat-peringkat takdir ini, berarti ia belum ber-iman
kepada Qadha’ dan Qadar.
Di
bawahnya Beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, Beliau katakan :
peringkat takdir ada empat:
Pertama
:
Meng-imani bahwa, Allah SWT
Maha mengetahui segala sesuatu yang belum terjadi.
Kedua
:
Meng-imani bahwa, Allah SWT
menuliskan semuanya di Lauh Mahfuzh sesuatu yang bakal terjadi.
Ketiga
:
Meng-imani bahwa, Allah SWT
Maha menghendaki kejadian dan segala sesuatu yang terjadi.
Keempat
:
Meng-imani bahwa, Allah SWT
pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.
Itulah
empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu
sendiri. Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu
pengetahuan Allah Azza wa
Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu
ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya
apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti
menciptakan dan mengadakan apa yang telah diketahui dan dikehendaki-Nya itu.
Takdir
baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab
Allah Azza wa Jalla
sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di
Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan
jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.
Tidak
mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu.
Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki
lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir,
maka tidak mungkin Allah Azza wa
Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab
antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa
yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci
Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya
terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.
Tetapi
perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla tidak selalu identik dengan sesuatu yang
di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki terjadi, pasti Allah Azza wa Jalla sukai. Misalnya,
homoseksual terjadi dengan kehendak Allah Azza wa
Jalla, tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.
Fakta
yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut dengan iradah kauniyah, kehendak Allah
yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian tidak
akan terjadi tanpa kehendak kauniyah Allah Azza wa
Jalla. Buktinya, banyak pencurian yang gagal meskipun sudah dengan
perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah tidak menghendaki pencurian itu
terjadi.
Maka
terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti
pencurian itu diridhai oleh Allah SWT?
Tentu tidak.
Jadi
tidak setiap yang Allah SWT
kehendaki terjadi, pasti Allah sukai.
Empat
peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang
shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan
kitab-kitab-Nya.
Oleh
sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu
al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun
yang pertama, yaitu bahwa Allah SWT
sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu
terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul Allah SWT, mulai dari Rasul Allah yang
pertama hingga Rasul Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan
seluruh Sahabat Nabi SAW
serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi
kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan
segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah
sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.
Beliau
juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat, tentang
penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah bagi
terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang
dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh
rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para
rasulNya.
Di
antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah SWT dalam QS Luqman, 34 :
إِنَّ اللَّهَ
عِنْدَهُ
عِلْمُ
السَّاعَةِ
وَيُنَزِّلُ
الْغَيْثَ
وَيَعْلَمُ
مَا
فِي
الْأَرْحَامِ
ۖ وَمَا
تَدْرِي
نَفْسٌ
مَاذَا
تَكْسِبُ
غَدًا
ۖ وَمَا
تَدْرِي
نَفْسٌ
بِأَيِّ
أَرْضٍ
تَمُوتُ
ۚ إِنَّ
اللَّهَ
عَلِيمٌ
خَبِيرٌ
“Sesungguhnya
Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah
yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada
dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa
hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di
bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha Mengenal.”
(QS. Luqman:34).
Dari
Abu Hurairah ra,
sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda,
مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ
خَمْسٌ
لاَيَعْلَمُهَا
إِلاَّ
اللهُ: لاَيَعْلَمُ
مَا
فِى
غَدٍ
إِلاَّ
اللهُ،
وَلاَ
يَعْلَمُ
مَاتَغِيْضُ
الْأَرْحَامُ
إِلاَّ
اللهُ،
وَلاَ
يَعْلَمُ
مَتَى
يَأْتِي
الْمَطَرُ
أَحَدٌ
إِلاَّ
اللهُ،
وَلاَ
تَدْرِي
نَفْسٌ
بِأَيِّ
أَرْضٍ
تَمُوْتُ،
وَلاَ
يَعْلَمُ
مَتَى
تَقُوْمُ
السَّاعَةُ
إِلاَّ
اللهُ. رواه
البخاري
“Kunci-kunci
perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada
yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui
apa yang berkurang dari rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang
mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang
mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya
hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan lainnya).
Dalam
riwayat Ibnu Umar radhiyallahu
anhuma, ia berkata, Rasulullah SAW
bersabda :
مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ
خَمْسٌ،
ثُمَّ
قَرَأَ : (إِنَّ
اللَّهَ
عِنْدَهُ
عِلْمُ
السَّاعَةِ …..). رواه
البخاري
“Kunci-kunci
perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau SAW
membaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada sisi-Nya
sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).
Allah
SWT juga
berfirman dalam QS Al “Anam, 59 :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ
الْغَيْبِ
لَا
يَعْلَمُهَا
إِلَّا
هُوَ
ۚ وَيَعْلَمُ
مَا
فِي
الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ
ۚ وَمَا
تَسْقُطُ
مِنْ
وَرَقَةٍ
إِلَّا
يَعْلَمُهَا
وَلَا
حَبَّةٍ
فِي
ظُلُمَاتِ
الْأَرْضِ
وَلَا
رَطْبٍ
وَلَا
يَابِسٍ
إِلَّا
فِي
كِتَابٍ
مُبِينٍ
“Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan,
dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan
tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah
atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Al-An’am: 59).
Juga
firman-Nya,
أَلَمْ تَعْلَمْ
أَنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ
مَا
فِي
السَّمَاءِ
وَالْأَرْضِ
ۗ إِنَّ
ذَٰلِكَ
فِي
كِتَابٍ
ۚ إِنَّ
ذَٰلِكَ
عَلَى
اللَّهِ
يَسِيرٌ
“Bukankah
engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit maupun
bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh
Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS.
Al-Hajj: 70).
Dua
ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu
di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala
sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada
sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah
mudah bagi Allah.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga bersabda antara lain,
كَتَبَ اللهُ
مَقَادِيْرَ
الْخَلاَئِقِ
قَبْلَ
أَنْ
يَخْلُقَ
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ
بِخَمْسِيْنَ
أَلْفَ
سَنَةٍ. قَالَ : وَعَرْشُهُ
عَلَى
الْمَاءِ. رواه
مسلم
“Allah
telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap makhluk-Nya lima puluh ribu
tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu
itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.” (HR. Muslim).
Demikianlah
kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas
segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula
walaa quwwata illaa billaah..
No comments:
Post a Comment