Thursday, 7 September 2017

Materi khutbah MEMAHAMI TAKDIR SECARA ADIL


Hasil gambar untuk KUTBAH



 Materi khutbah
MEMAHAMI TAKDIR SECARA ADIL

Muqadimah... Ungkapan Syukur... Shalawat dan Salam... Wasiat Iman dan Taqwa...
Saudara-saudaraku... Bagi sebagian orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini banyak di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua kutub kesesatan yang saling berlawanan, yaitu :
1]. Kesesatan Jabariyah : Golongan yang berlebihan dalam masalah takdir, hingga menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat, semua serba dipaksa oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pemiliknya.
2]. Kesesatan Qadariyah : Golongan yang berlebihan menolak takdir, hingga semua kegiatan manusia tidak dicampuri oleh Allah Azza wa Jalla dan kehendak-Nya. Mengapa demikian..? Sebab, dalam memahami takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak pada azas logika. Padahal masalah takdir termasuk perkara ghaib, yang tidak akan dapat dijangkau secara detail dan kongkrit hanya berdasarkan logika. Untuk itulah saudaraku, agar kita semua paham dan memahami, jum’at ini akan saya sampaikan khutbah dengan judul : Memahami Takdir secara Adil

Saudara-saudaraku... Bukan wilayah logika untuk memahami takdir dengan tuntas, Ia harus dipahami berdasarkan wahyu dan keimanan. Bahkan, ketika takdir sudah terjadi-pun, kadang orang tidak mampu menangkap hikmah yang terkandung di baliknya. Yang pasti, takdir Allah Azza wa Jalla harus di-imani sebagaimana orang meng-imani ketetapan syariat-Nya. Keduanya merupakan ketetapan Allah SWT, ketika orang menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah SWT dan meng-imaninya, misalnya syariat shalat, siapapun termasuk kita juga harus meng-imani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya takdir hidup, mati, laki-laki, perempuan, sehat, sakit, kaya, miskin, dan takdir-takdir lainnya. Karena, semuanya berasal dari Allah SWT, Pencipta alam semesta dan penetap syariat bagi sekalian hamba-Nya.
Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun dan azas ke-imanan di antara rukun Iman yang enam. Sehingga,
 barang siapa yang mengingkari takdir, maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.

Saudara-saudaraku... Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang Iman, Beliau SAW bersabda : Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan beriman kepada takdir baik maupun takdir buruk. (HR. Muslim).

Mendasarkan pada hadits diatas, orang yang beriman adalah Orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada rukun-rukun iman lainnya. Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan kehendak Allah Azza wa Jalla. Iman kepada takdir, tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun iman yang lain. Semua saling terkait erat, maka siapapun yang ber-iman kepada Allah SWT, kepada para malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan hari akhir, harus pula ber-iman kepada takdir.

Sebagaimana halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau perasaan orang yang serba terbatas.
Sama halnya ketika orang meng-imani Allah SWT, nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan wahyu. Demikian pula, ketika siapapun menjalankan dan meng-imani syariat, juga harus sesuai dengan petunjuk wahyu. Dan di antara wahyu Allah SWT adalah Sunnah Rasulullah SAW, sebab Beliau adalah utusan-Nya yang dipercaya untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun Sunnah. Sesuai dengan sabda-Nya :
Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah) didatangkan bersamanya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa, ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah Nabi SAW

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus memahami dan mengimani empat peringkat takdir secara benar, yaitu :
Pertama, Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha mengetahui segala sesuatu yang belum terjadi.
Kedua, Meng-imani bahwa, Allah SWT menuliskan semuanya di Lauh Mahfuzh sesuatu yang bakal terjadi.
Ketiga, Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha menghendaki kejadian dan segala sesuatu yang terjadi.
Keempat, Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha mengetahui segala sesuatu yang dicipkatan dan ditetapkan-Nya.


seperti dinyatakan oleh para Ulama.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Syifa’ul ‘Alil, menyatakan : Barangsiapa tidak mengimani peringkat-peringkat takdir ini, berarti ia belum ber-iman kepada Qadha’ dan Qadar.
Di bawahnya Beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, Beliau katakan : peringkat takdir ada empat:
Pertama : Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha mengetahui segala sesuatu yang belum terjadi.
Kedua : Meng-imani bahwa, Allah SWT menuliskan semuanya di Lauh Mahfuzh sesuatu yang bakal terjadi.
Ketiga : Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha menghendaki kejadian dan segala sesuatu yang terjadi.
Keempat : Meng-imani bahwa, Allah SWT pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.

Itulah empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu sendiri. Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu pengetahuan Allah Azza wa Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan apa yang telah diketahui dan dikehendaki-Nya itu.

Takdir baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab Allah Azza wa Jalla sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.

Tidak mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu. Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir, maka tidak mungkin Allah Azza wa Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.

Tetapi perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla tidak selalu identik dengan sesuatu yang di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki terjadi, pasti Allah Azza wa Jalla sukai. Misalnya, homoseksual terjadi dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.

Fakta yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut dengan iradah kauniyah, kehendak Allah yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian tidak akan terjadi tanpa kehendak kauniyah Allah Azza wa Jalla. Buktinya, banyak pencurian yang gagal meskipun sudah dengan perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah tidak menghendaki pencurian itu terjadi.
Maka terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti pencurian itu diridhai oleh Allah SWT? Tentu tidak.

Jadi tidak setiap yang Allah SWT kehendaki terjadi, pasti Allah sukai.
Empat peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan kitab-kitab-Nya.
Oleh sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun yang pertama, yaitu bahwa Allah SWT sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul Allah SWT, mulai dari Rasul Allah yang pertama hingga Rasul Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan seluruh Sahabat Nabi SAW serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.

Beliau juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat, tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah bagi terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasulNya.
Di antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah SWT dalam QS Luqman, 34 :
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman:34).

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,
مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَيَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ: لاَيَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَاتَغِيْضُ الْأَرْحَامُ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللهُ. رواه البخاري
“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dari rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan lainnya).

Dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :
مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ، ثُمَّ قَرَأَ : (إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ …..). رواه البخاري
“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau SAW membaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).

Allah SWT juga berfirman dalam QS Al “Anam, 59 :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59).

Juga firman-Nya,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit maupun bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).

Dua ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah mudah bagi Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda antara lain,
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ : وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ. رواه مسلم
“Allah telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.” (HR. Muslim).
Demikianlah kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula walaa quwwata illaa billaah..


No comments:

Post a Comment