Showing posts with label PENYAKIT FELINE PANLEUKOPENIA (FPL) PADA KUCING. Show all posts
Showing posts with label PENYAKIT FELINE PANLEUKOPENIA (FPL) PADA KUCING. Show all posts

Thursday, 7 September 2017

Materi khutbah MEMAHAMI TAKDIR SECARA ADIL


Hasil gambar untuk KUTBAH



 Materi khutbah
MEMAHAMI TAKDIR SECARA ADIL

Muqadimah... Ungkapan Syukur... Shalawat dan Salam... Wasiat Iman dan Taqwa...
Saudara-saudaraku... Bagi sebagian orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini banyak di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua kutub kesesatan yang saling berlawanan, yaitu :
1]. Kesesatan Jabariyah : Golongan yang berlebihan dalam masalah takdir, hingga menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat, semua serba dipaksa oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pemiliknya.
2]. Kesesatan Qadariyah : Golongan yang berlebihan menolak takdir, hingga semua kegiatan manusia tidak dicampuri oleh Allah Azza wa Jalla dan kehendak-Nya. Mengapa demikian..? Sebab, dalam memahami takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak pada azas logika. Padahal masalah takdir termasuk perkara ghaib, yang tidak akan dapat dijangkau secara detail dan kongkrit hanya berdasarkan logika. Untuk itulah saudaraku, agar kita semua paham dan memahami, jum’at ini akan saya sampaikan khutbah dengan judul : Memahami Takdir secara Adil

Saudara-saudaraku... Bukan wilayah logika untuk memahami takdir dengan tuntas, Ia harus dipahami berdasarkan wahyu dan keimanan. Bahkan, ketika takdir sudah terjadi-pun, kadang orang tidak mampu menangkap hikmah yang terkandung di baliknya. Yang pasti, takdir Allah Azza wa Jalla harus di-imani sebagaimana orang meng-imani ketetapan syariat-Nya. Keduanya merupakan ketetapan Allah SWT, ketika orang menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah SWT dan meng-imaninya, misalnya syariat shalat, siapapun termasuk kita juga harus meng-imani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya takdir hidup, mati, laki-laki, perempuan, sehat, sakit, kaya, miskin, dan takdir-takdir lainnya. Karena, semuanya berasal dari Allah SWT, Pencipta alam semesta dan penetap syariat bagi sekalian hamba-Nya.
Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun dan azas ke-imanan di antara rukun Iman yang enam. Sehingga,
 barang siapa yang mengingkari takdir, maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.

Saudara-saudaraku... Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang Iman, Beliau SAW bersabda : Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan beriman kepada takdir baik maupun takdir buruk. (HR. Muslim).

Mendasarkan pada hadits diatas, orang yang beriman adalah Orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada rukun-rukun iman lainnya. Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan kehendak Allah Azza wa Jalla. Iman kepada takdir, tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun iman yang lain. Semua saling terkait erat, maka siapapun yang ber-iman kepada Allah SWT, kepada para malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan hari akhir, harus pula ber-iman kepada takdir.

Sebagaimana halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau perasaan orang yang serba terbatas.
Sama halnya ketika orang meng-imani Allah SWT, nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan wahyu. Demikian pula, ketika siapapun menjalankan dan meng-imani syariat, juga harus sesuai dengan petunjuk wahyu. Dan di antara wahyu Allah SWT adalah Sunnah Rasulullah SAW, sebab Beliau adalah utusan-Nya yang dipercaya untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun Sunnah. Sesuai dengan sabda-Nya :
Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah) didatangkan bersamanya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa, ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah Nabi SAW

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus memahami dan mengimani empat peringkat takdir secara benar, yaitu :
Pertama, Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha mengetahui segala sesuatu yang belum terjadi.
Kedua, Meng-imani bahwa, Allah SWT menuliskan semuanya di Lauh Mahfuzh sesuatu yang bakal terjadi.
Ketiga, Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha menghendaki kejadian dan segala sesuatu yang terjadi.
Keempat, Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha mengetahui segala sesuatu yang dicipkatan dan ditetapkan-Nya.


seperti dinyatakan oleh para Ulama.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Syifa’ul ‘Alil, menyatakan : Barangsiapa tidak mengimani peringkat-peringkat takdir ini, berarti ia belum ber-iman kepada Qadha’ dan Qadar.
Di bawahnya Beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, Beliau katakan : peringkat takdir ada empat:
Pertama : Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha mengetahui segala sesuatu yang belum terjadi.
Kedua : Meng-imani bahwa, Allah SWT menuliskan semuanya di Lauh Mahfuzh sesuatu yang bakal terjadi.
Ketiga : Meng-imani bahwa, Allah SWT Maha menghendaki kejadian dan segala sesuatu yang terjadi.
Keempat : Meng-imani bahwa, Allah SWT pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.

Itulah empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu sendiri. Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu pengetahuan Allah Azza wa Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan apa yang telah diketahui dan dikehendaki-Nya itu.

Takdir baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab Allah Azza wa Jalla sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.

Tidak mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu. Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir, maka tidak mungkin Allah Azza wa Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.

Tetapi perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla tidak selalu identik dengan sesuatu yang di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki terjadi, pasti Allah Azza wa Jalla sukai. Misalnya, homoseksual terjadi dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.

Fakta yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut dengan iradah kauniyah, kehendak Allah yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian tidak akan terjadi tanpa kehendak kauniyah Allah Azza wa Jalla. Buktinya, banyak pencurian yang gagal meskipun sudah dengan perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah tidak menghendaki pencurian itu terjadi.
Maka terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti pencurian itu diridhai oleh Allah SWT? Tentu tidak.

Jadi tidak setiap yang Allah SWT kehendaki terjadi, pasti Allah sukai.
Empat peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan kitab-kitab-Nya.
Oleh sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun yang pertama, yaitu bahwa Allah SWT sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul Allah SWT, mulai dari Rasul Allah yang pertama hingga Rasul Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan seluruh Sahabat Nabi SAW serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.

Beliau juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat, tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah bagi terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasulNya.
Di antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah SWT dalam QS Luqman, 34 :
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman:34).

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,
مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَيَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ: لاَيَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَاتَغِيْضُ الْأَرْحَامُ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللهُ. رواه البخاري
“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dari rahim kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan lainnya).

Dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :
مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ، ثُمَّ قَرَأَ : (إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ …..). رواه البخاري
“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau SAW membaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).

Allah SWT juga berfirman dalam QS Al “Anam, 59 :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59).

Juga firman-Nya,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit maupun bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).

Dua ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah mudah bagi Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda antara lain,
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ : وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ. رواه مسلم
“Allah telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.” (HR. Muslim).
Demikianlah kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula walaa quwwata illaa billaah..


MATERI KHUTBAH NIKMAT DAN ADZAB KUBUR

Hasil gambar untuk KUTBAH



MATERI KHUTBAH
NIKMAT DAN ADZAB KUBUR

Muqadimah... Ungkapan Syukur... Shalawat dan Salam... Wasiat Iman dan Taqwa...
Saudara-saudaraku kaum muslimin jama’ah jum’ah Rahimakumullah,

Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah …
Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتَوَلّىَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرّجُلِ ؟
أَشْهَدُ أَنّهُ عَبْدُ اللّهِ وَرَسُولُهُ. قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ: “انْظُرْ إِلَىَ مَقْعَدِكَ مِنَ النّارِ. قَدْ أَبْدَلَكَ اللّهُ بِهِ مَقْعَداً مِنَ الْجَنّةِقَالَ نَبِيّ اللّهِ صلى الله عليه وسلم:
فَيَرَاهُمَا جَمِيعاً”.
“Sesungguhnya seorang hamba bila diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya telah kembali pulang, sunggguh dia akan mendengarkan gesekan sandal-sandal mereka. Datang kepadanya dua malaikat, maka keduanya mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu tentang orang ini (yakni nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)? Adapun seorang yang mukmin akan menjawab, ’Aku bersaksi bahwasanya dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya’. Maka dinyatakan kepadanya, ‘Lihatlah kepada tempatmu di neraka, sungguh telah digantikan oleh Allah dengan sebuah tempat di surga.” Maka Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian dia melihat kedua tempat tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah…
Hadits ini menceritakan kepada kita bagaimana ‘pertanyaan yang terjadi di alam kubur’. Adapun orang-orang yang beriman akan dikokohkan oleh Allah sewaktu mereka ditanya di dalam kubur masing-masing. Itulah yang dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Quran yang mulia:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)

Permulaan dari alam akhirat adalah alam barzakh (alam kubur). Oleh karena itu, seorang yang beriman akan dikokohkan oleh Allah untuk menjawab pertanyaan kubur, sebagaimana di dalam hadits yang telah lalu.
Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dari hadits Al-Bara’ bin ‘Azib rahimahullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ: يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. فَذَلِكَ قَوْلُهُ: يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ)
“Seorang hamba yang muslim bila ditanya di dalam kuburnya, niscaya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Maka itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: ‘ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah mudahkan baginya untuk menjawab pertanyaan kubur dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ’Laa Ilaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah. Perkara yang akan ditanyakan oleh dua malaikat kepada seorang hamba yang baru saja meninggal, bila telah selesai dikuburkan, ada tiga hal:
Pertama: (مَنْ رَبُّكَ) :“Siapa Rabbmu”
Kedua: (وَمَا دِيْنُكَ); “Apa agamamu”
Ketiga: (وَمَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِيْ بُعِثَ فِيْكُم) :“Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?”

Maka seorang yang mukmin akan menjawab: “Rabku adalah Allah, agamaku adalah Islam, sedangkan orang ini adalah Muhammad utusan Allah.” Lalu ditanyakan kepadanya: “Apa yang memberitahumu mengenai jawaban ini?” Dia menjawab: “Aku membaca Al-Qur’an, beriman kepadanya, dan membenarkannya.”
Dengan demikian, seorang yang mukmin selamat dari siksa kubur karena bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya itu. Berbeda dengan seorang yang kafir ketika ditanya: “Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Dia hanya bisa menjawab: “Ha..ha.. aku tidak tahu.” Inilah keadaan seorang yang kafir sewaktu ditanya di dalam kuburnya.
Itulah fitnah kubur, yaitu pertanyaan dua malaikat yang dihadapkan kepada seorang yang baru saja meninggal. Dua malaikat yang menanyai seorang yang baru saja meninggal disebut dengan Munkar dan Nakir. Sebagaimana hal ini terdapat di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam At-Turmudzi dengan sanad yang hasan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ، أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ. يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيْرُ
“Apabila seorang hamba telah diletakkan di dalam kuburnya, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya disebut Al-Munkar dan yang lain disebut An-Nakir.” (HR. At-Turmudzi dan dihasankan oleh syaikh Al AlBani dalam tahqiqnya atas ”Syarh Aqidah Thahawiyyah” hal. 399)

Maka ini adalah nama dua malaikat yang akan menanyai seorang yang baru saja dikubur. Keduanya akan bertanya tentang “Siapa Rabmu, apa agamamu, dan siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Seorang yang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun seorang yang kafir, ketika tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah…
Di sini para ulama berselisih pendapat: Apakah pertanyaan kubur hanya khusus pada umat ini atau juga umum pada umat-umat yang sebelumnya?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur berlaku umum pada seluruh umat dari yang pertama sampai yang terakhir. Pendapat ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah di dalam kitabnya ”Syarh Lum’atil I’tiqod”( hal. 112)
Kemudian terjadi pula perselisihan di kalangan para ulama: Apakah pertanyaan ini bagi orang-orang yang mukallaf saja atau juga bagi orang-orang yang tidak mukallaf seperti anak kecil dan orang gila yang meninggal?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur mencakup semuanya. Baik yang mukallaf atau tidak mukallaf. Maka pertanyaan kubur itu juga diarahkan bagi anak kecil dan orang gila yang meninggal, karena keumuman dalil-dalil yang berbicara tentang pertanyaan kubur. Demikian pula dikuatkan dengan dalil bahwa anak kecil atau orang gila yang meninggal dari kalangan muslimin, diperintahkan kepada kita untuk menshalatkan dan mendoakannya agar dilindungi oleh Allah dari adzab kubur. Hal ini menunjukkan bahwa mereka juga mendapatkan ‘pertanyaan kubur’.
Oleh sebab itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ar-Ruh yang dinisbatkan kepada beliau, menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa pertanyaan kubur berlaku secara umum, baik bagi yang mukallaf maupun tidak.
Adapun mengenai pertanyaan kubur: Apakah khusus bagi kaum mukminin saja atau juga umum meliputi orang-orang kafir? Menurut pendapat yang paling kuat dikalangan para ulama, bahwa pertanyaan kubur meliputi kaum mukminin dan orang-orang kafir secara umum. Banyak dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang mengasumsikan kepada kita bahwa orang-orang kafir juga akan ditanya oleh dua malaikat di dalam kubur mereka. Di antaranya adalah hadits yang telah kita bacakan sebelumnya yaitu hadits Al-Bara’ bin ’Azib yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu, Dawud, An Nasai, Ibnu Majah dan yang selainnya.
Wallahu a’lam bish shawab

Khutbah yang kedua
Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah . . .
Yang mendapatkan pengecualian dari pertanyaan kubur adalah ‘orang yang mati syahid’. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam An-Nasai dengan sanad yang shahih. Bahwa salah seorang dari sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah! kenapa seluruh kaum mukminin diuji di dalam kuburnya kecuali orang yang mati syahid?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنُةً
“Cukuplah kilatan pedang yang berada di atas kepalanya sebagai ujian tersendiri”. (HR. An-Nasai dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitabnya ”Ahkamul Janaiz” hal. 36)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid tidak diuji, yakni tidak ditanya oleh dua orang malaikat di dalam kuburnya. Maka ini merupakan pengecualian. Pengecualian yang lain adalah orang yang meninggal ketika berada di front terdepan untuk berjaga-jaga dalam jihad fi sabilillah. Kondisi ini diistilahkan dengan “Al-Murobith fi sabilillah”. Maka orang yang demikian ini, bila meninggal tidak akan ditanya di dalam kuburnya. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu ’anhu.
Sekeluarnya dari fitnah kubur, seorang yang meninggal akan memasuki fase yang disebut dengan nikmat kubur atau adzab kubur. Seorang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia memperoleh nikmat kubur.

Kemudian datang seruan dari langit: “hamba-Ku ini telah benar, Bentangkanlah untuknya permadani dari surga dan bukakanlah sebuah pintu ke surga”. Harum wangi surga pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh mata memandang. Lalu datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya, pakainnya, dan harum wanginya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si mukmin bertanya kepadanya, siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan. Dia pun menjawab, aku adalah amalmu yang sholih. Lalu si mukmin berkata, wahai Robbku! Segerakanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku”.

Adapun seorang yang kafir ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia dihadapkan kepada adzab kubur. Kemudian datang seruan dari langit: “dia telah berdusta, bentangkanlah untuknya permadani dari api neraka dan bukakanlah sebuah pintu ke neraka. Sehingga hawa panas dan racun neraka pun menerpanya dan kuburnya di persempit sampai tulang-tulang rusuknya saling bergeser. Lalu datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya, pakainnya, dan busuk baunya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan memperburuk keadanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si kafir bertanya, siapakah engkau? Wajahmu dalah wajah yang datang dengan membawa keburukan. Dia pun menjawab, aku adalah amalmu yang buruk. Lalu si kafir berkata, wahai Robku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat”.

Itulah keadaan seorang yang mukmin dan seorang yang kafir setelah ditanya di dalam kuburnya. Seorang yang kafir disiksa karena tidak bisa menjawab pertanyaan kubur. Namun bukan berarti bahwa setiap mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin yang bermaksiat kepada Allah berkemungkinan merasakan adzab kubur, bila Allah tidak berkehendak mengampuni dosanya.
Hal ini diperkuat dengan sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
إِنّهُمَا لَيُعَذّبَانِ، وَمَا يُعَذّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، ، وَأَمّا الاَخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنّمِيمَةِ
”Orang-orang yang berada di dalam dua kubur ini, sungguh sedang disiksa. Dan tidaklah keduanya disiksa karena suatu masalah yang besar. Adapun salah satu dari keduanya, dahulu tidak mau menjaga diri dari air kencing. Sedangkan yang lain, dahulu biasa berjalan untuk mengadu domba”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Beliau meletakkannya di masing-masing dua kubur ini dengan harapan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingan siksa keduanya, selama pelepah kurma itu masih basah dan belum kering.
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah…
Apakah adzab kubur akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat atau disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa ?
Jawabnya: di antara adzab kubur ada yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat dan ada pula yang disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa.
Yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat adalah adzab kubur bagi orang-orang yang kafir. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menyatakan tentang Fir’aun dan bala tentaranya:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, serta pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. (Al-Mukmin (Ghafir): 46)

Dari ayat ini, ulama menyimpulkan bahwa adzab kubur bagi orang-orang yang kafir akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat.
Dalil yang lain adalah hadits Al-Bara` bin ’Azib yang sebelumnya telah kita bacakan, pada sebuah riwayatnya disebutkan: “Bahwasanya tatkala seorang yang kafir tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka kepadanya dinampakkan tempatnya di dalam neraka, dan perkara ini akan berlangsung sampai hari kiamat”.
Adapun adzab kubur yang berlangsung sesuai dengan kadar dosa orang yang disiksa adalah adzab kubur yang ditimpakan kepada para pelaku dosa besar. Allah akan menyiksanya di dalam kubur sesuai dengan kadar dosanya, kemudian akan diperingan dan tidak akan berlangsung sampai terjadi hari kiamat.

 

diabetes militus

Hasil gambar untuk DIABETES


DIABETES MILITUS
A.    KONSEP PENYAKIT
1.      Definisi
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik menahun yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (Hiperglikemia), yang dikarenakan kurangnya produksi insulin dalam tubuh atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif (Riskesdas, 2013).
Diabetes Mellitus adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua–duanya (Gustaviani, 2006)
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang banyak mengeluarkan urine dengan kadar glukosa yang tinggi, dan ditandai dengan ketiadaan absolut insulin atau penurunan insentivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009).

2.      Etiologi
a.    DM Tipe I
Melalui proses imonologik dimana tubuh tidk bias menghasilkan insulin Karena sel beta pancreas dirusak oleh system autoimun.
b.    DM Tipe II
a). Obesitas
b). Gaya hidup
c). Usia
d). Infeksi toxin, virus
c.     DM tipe lain
a). Defek genetic fungsional sel beta
Kromosom 12, HNF – 1 α (dahulu MODY 3)
Kromosom 7, glukokinase (dahulu MODY 2)
Kromosom 20, HNF – 4 α (dahulu MODY 1)
Kromosom 13, insulin prometer factor (IPF – 1, dahulu MODY 4)
Kromosom 17, HNF – 1 β (dahulu MODY 5)
Kromosom 2, Neuro D1 (dahulu MODY 6)
DNA mitcohondria, dan lain –lain.
b). Defek genetic kerja insulin : resistensi insulin tipe A, leprechaunrism sindrom Robson Mendenhall, diabetes lipoatropik.
c).Penyakit endokrin pankreas : pankreatitis, trauma/pankreatomi, neuplasma, fibrosis kristik, hemakromatosis, pankreotopati fibrokalkulus.
d). Endokrinopati : akromegali, sindrom cushing, feokromatisoma, hipertiroidisme, aldosteronoma
e). Karena obat/ zat kimia : vector, pentanidin, asam nikotinat,glukokortiroid, hormon tiroid, diazoxin,agonis β, andrenegik, Tiazid, dilatin.
f). Infeksi : rubella sanginetal, CMV.
g).Imunologi ( jarang ).
h). Sindrom genetic lain.
d.    Diabetes kehamilan
Biasaya karena herideter.
(Gustaviani, 2006)


3.      Manifestasi Klinik
Adanya keluhan khas yang dirasakan ketika sudah terjadi diabetes mellitus. Keluhan khas tersebut yaitu banyak kencing (polyuria), banyak minum (polydipsia), banyak makan (polyphagia), dan disertai dengan pemeriksaan gula darah yang lebih dari normal (gula darah sewaktu = 200 mg/dl, atau gula darah puasa = 126 mg/dl). Selain keluhan khas tersebut bnyak tanda yang terjadi dari kesemutan, lemah, gatal, mata kabur, pruritus, disfungsi ereksi (Sidartwan, 2005).
Menurut Smeltzer (2002) Ada 3 Kriteria yang digunakan untuk diagnosa laboratorium diabetes mellitus :
a.    Konsentrasi glukosa plasma vena puasa (semalam) 126 mg/dL atau lebih dari satu kali pemeriksaan.
b.    Gejala klinis diabetes dan kadar glukosa sewaktu 200 mg/dL atau lebih.
c.    Setelah ingesti 75 g glukosa, konsentrasi glukosa plasma vena 2 jam 200 mg/dL atau lebih.

4.      Komplikasi
Kelebihan kadar gula darah yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf dan pembuluh darah. Muncul banyak konsekuensi dari diabetes, yang sering terjadi seperti meningkatnya resiko jantung dan juga stroke, neuropati (kerusakan syaraf) dikaki yang mengakibatkan ulkus kaki, retinopati diabetikum terjadi karena kerusakan pembuluh darah kecil diretina yang menyebabkan kebutaan, gagal ginjal, dan juga resiko kematian. Pada umumnya penderita diabetes mellitus resiko kematiannya menjadi dua kali lipat dibanding bukan penderita diabetes (Permana, 2008).

5.      Patofisiologi Dan Pathway
Diabetes tipe I. Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemi puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia).
Defisiensi insulin juga akan menggangu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan  (polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan substansi lain), namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting.
Diabetes tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan resptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan untuk mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe II, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikian, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketoik (HHNK).
Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsi, luka pada kulit yang lama sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadra glukosanya sangat tinggi) (Corwin,2009).













Pathwa



                                                                                         
























6.      Petanalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan diabetes mellitus jangka panjang adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi, sedangkan dalam jangka pendek untuk menghilangkan keluhan/gejala diabetes. Berikut ini macam penataksanaan diabetes meliputi :
a.    Diet
Penghimpunan Diabetes dan Persatuan Diabetik Amerika merekomendasikan 50-60% kalori berasal dari karbohidrat 60%, Protein 12-20%, Lemak 20-30%.
b.    Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
a)    Sulfonilurea : menstimulasi pengelapasan insulin yang tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin, meningkatkan sekresi insulin.
b)   Biguanid : menurunkan kadar gula dalam darah tapi tidak sampai dibawah normal.
c)    Inhibitor α glukosidase : menghambat kerja enzim α glkosidase didalam saluran ceran sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia.
d)   Insulin sensiting agent : Thoazahdine diones meningkatkan sensitivitas insulin, seingga bisa mengatasi masalah resistensi insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia.
e)    Insulin dengan indikasi diabetes dengan berat badan menurun dengan cepat, ketoasidosis asidosis laktat dengan koma hiperosmolar, diabetes dengan kehamilan atau diabetes gestasional yang tidak terkendali dalam pola makan. Insulin oral/suntikan dimulai dari dosis yang lebih rendah lalu dinaikkan perlahan sesuai dengan hasil pemeriksaan gula darah paisen.
c.    Latihan
Latihan dengan melawan ketahanan yang dapat menurunkan stress, dapat menurunkan BB, menyegarkan tubuh, gunakan alas kaki yang tepat.
d.   Pemantauan
Pemantauan kadar gula darah secara mandiri




















B.     ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
Fokus utama pengkajian pada klien Diabetes Mellitus adalah melakukan pengkajian dengan ketat terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan perawatan diri. Pengkajian secara rinci adalah sebagai berikut
a. Riwayat atau adanya faktor resiko, Riwayat keluarga tentang penyakit, obesitas, riwayat pankreatitis kronik, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg, riwayat glukosuria selama stress (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi, penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretik tiasid, kontrasepsi oral).
b. Kaji terhadap manifestasi Diabetes Mellitus: poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, pruritus vulvular, kelelahan, gangguan penglihatan, peka rangsang, dan kram otot. Temuan ini menunjukkan gangguan elektrolit dan terjadinya komplikasi aterosklerosis.
c.   Pemeriksaan Diagnostik
1)   Tes toleransi Glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari 200mg/dl). Biasanya, tes ini dianjurkan untuk pasien yang menunjukkan kadar glukosa meningkat dibawah kondisi stress.
2)   Gula darah puasa normal atau diatas normal.
3)   Essei hemoglobin glikolisat diatas rentang normal.
4)   Urinalisis positif terhadap glukosa dan keton.
5)   Kolesterol dan kadar trigliserida serum dapat meningkat menandakan ketidakadekuatan kontrol glikemik dan peningkatan propensitas pada terjadinya aterosklerosis.
d.        Kaji pemahaman pasien tentang kondisi, tindakan, pemeriksaan diagnostik dan tindakan perawatan diri untuk mencegah komplikasi.
e.         Kaji perasaan pasien tentang kondisi penyakitnya.
2.      Diagnosa Keperawatan
a.         Gangguan inetgritas kulit bdulkus DM
b.        Nyeri bdagencidera biologis
c.         Kekurangan volume cairan dehidrasi
d.        Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan polidipsi / polifagia
e.         Resiko injury .gangguan  penglihatan
f.         Resiko infeksi bdlukaganggren
g.        Ketidak efektifan  perfusi jarigan periferbd ketidak sesuaian antara ventilasi dan aliran darah
h.        Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
i.          Hepertermia berhubungan dengan dehidrasi




3.      Intervensi
No
Diagnose keperawatan
Tujuan dan criteria hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
1






















Gangguan inetgritas kulit.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jm diharapkan pasien dapat :
Outcome
Kontrol resiko proses infeksi
Criteria:
- Memonitor kebiasaan individu yang terkait faktor resiko infeksi
- Strategi pengawasan infeksi yang efektif dapat dilakukan
- Mengetahui akibat jika terjadi infeksi
1. Identifikasi faktor ekternal dan internal yang membuat pasien termotivasi untuk menjaga kesehatan nya
2. Ajarkan klien cara yang dapat digunakan untuk menghindari kebiasaan yang tidak sehat
3. Monitor bagian kerusakan terhadap adanya edema
4. Instruksikan klien pentingnya inspeksi daerah luka
5. Batasi pengunjung
6. Diskusikan pad pasien untuk rutinitas perawatan kaki
7. Tempatkan klien diruang khusus jika perlu
8. Perhatikan peningkatan aktivitas dan latihan
9. Perhatikan istirahat klien
10. Ajarkan klien dan keluarga bagaimana menghindari infeksi
11. Informasikan kepada keluarga tanda dan gejala infeksi
12. Instruksikan klien untuk memakan antibiotik yg telah ditentukan
13. Lakukan tindakan asepsis
2
Nyeri akutbdagenciderabiologis (lukaganggren)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jm diharapkan pasien dapat :
Pain control
Kh:
·      Dapat mengidentifikasi nyeri
·      Dapat mengontrol nyeri
·      Raut muka tidak meringis
1. Mempertimbangkan kebudayaan klien ketika melakukan perwatan
2. Mempertimbangkan usia klien
3. Monitor kemampuan klien untuk perawatn diri mandiri
4. Monitor kebutuhan klien terhadap kebersihan diri, pakaian,dan makan
5. Beri dukungan hingga klien mampu melakukan aktivitas sendiri
6. Dorong pasien untuk menunjukkan aktivitas keseharian yg normal
7. Kaji kebutuhan yang memerlukan bantuan
8. Bina aktivitas keseharian klien sehari hari
3.
Kekurangan volume cairan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jm diharapkan pasien dapat :

v  Fluid balance
v  Hydration
v Nutritional Status : Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
v  Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
v  Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
v  Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
Fluid management
· Timbang popok/pembalut jika diperlukan
· Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
· Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
·  Monitor vital sign
·   Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
·   Kolaborasikan pemberian cairan IV
·   Monitor status nutrisi
·   Berikan cairan IV pada suhu ruangan
·   Dorong masukan oral
·  Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
· Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
· Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
· kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
·  Atur kemungkinan tranfusi
·  Persiapan untuk tranfusi
4.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan

v  Nutritional Status : food and Fluid Intake
v  Nutritional Status : nutrient Intake
Kriteria Hasil :
v  Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
v  Beratbadan ideal sesuai dengan tinggi badan
v  Mampumengidentifikasi kebutuhan nutrisi
v  Tidk ada tanda tanda malnutrisi
v  Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
v  Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
Nutrition Management
1.    Kaji adanya alergi makanan
2.    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
3.    Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4.    Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5.    Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
6.    Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
7.    Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
8.    Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
9.    Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
5.
Resiko injury
Outcome : tingkat glukosa darah
Kriteria :
1. Keton urin
2. Glukosa urin
1. Monitor glukosa darah
2. Monitor keton urin sebagai indikasi
3. Monitor status cairan
4.Bantu pemasukan intake cairan
5.Identifikasikemungkinan penyebab hyperglikemia
6.Instruksiakn pemeriksan keton urin, jika diperlukan
7.Antisipasi situasi peningkatan kebutuhan insulin
8.Kaji pasien terhadap tingkat kenaikan glukosa darah
9.Membatasi aktivitas klien ketika glukosa darah >250 mg/dl, terutama ketika ditemukan keton urin
6.
Resiko infeksi
v  Immune Status
v  Knowledge : Infection control
v  Risk control
Kriteria Hasil :
v  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
v  Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
v  Jumlah leukosit dalam batas normal
v  Menunjukkan perilaku hidup sehat
infection Control (Kontrol infeksi)
1.   Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2.   Pertahankan teknik isolasi
3.   Batasi pengunjung bila perlu
4.   Instruksikanpadapengunjung untuk mencuci tangan
5.   Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
6.   Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
7.   Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
8.   Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
9.   Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
10.  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
11.  Tingktkan intake nutrisi
dan local
12.  Berikan terapi antibiotic bila perlu Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
13.  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
14.  Monitor hitung granulosit, WBC
15.   Monitor kerentanan terhadap infeksi
16.  Saring pengunjung terhadap penyakit menular
17.  Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresik0
18.  Pertahankan teknik isolasi k/p
19.  Berikan perawatan kuliat pada area epidema
20.  Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
21.  Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
22.  Dorong masukkan nutrisi yang cukup
23.  Dorong masukan cairan
24.  Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
25.  Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
26.  Ajarkan cara menghindari infeksi
27.  Laporkan kecurigaan infeksi
28.  Laporkan kultur positif
7














8


















9.
a.                                    Ketidak efektifan perfusi jarigan periferbd ketidak sesuaian antara ventilasi dan aliran darah




Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum














Hipertermia berhubungan dengan dehidrasi












Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jm diharapkan pasien dapat :
Menunjukkan keadekuatan  aliran darah
Menunjuk kan keseimbangan cairan dan perfusi jaringan perifer


Setrelah dilakukan tindakan keperawartan 3x 24 jam pasien dapat  menunjukkan
1.      toleransi terhadap aktifitas
2.      Pasien dapat menyeimbangkan energi dengan dalam aktifitas




Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3X 24 jam termoregulasi normal dengan KH :
1.      Suhu kulit normal
2.      Nadi normal
3.      Pernafasan normal
4.      Tidak ada dehidrasi
Manajement sensasi perifer:
Kaji sirkulasi perifer
Pantau  tingkat  ketidak  nyamanan
Pantau rasa kebas, keemutan
Anjurkan  pasien selalu memeriksa kulit setiap hari









1.Kaji kemampuan asien untuk pindah dari tempat tidur, berdiri, ambulasi, dan melakukan ADL
2. Evaluasi motivasi dan keingginan pasien untuk abulasi
3. Tentukan penyebaba kelemahan
4. pantau respon kardiorespiratori terhadap aktifitas
5.instruksikan pasen dan keluaga untuk mengenali tana intoleransi aktifitas



1.      Pantau tekanan darah , nadi, respirasi, suhu tubuh tiap 8 jam.
2.      Anjurkan memakai pakaian yang tipis
3.      Hindari memakai selimut tebal
4.      Ajarkan keluarga untuk mengukur suhu ketiak
5.      Berikan kompres hangat
6.      Berikan obat antipiretik sesuai program medis



4.      Evaluasi
b.        Gangguan inetgritas kulit bdulkus DM
S: pasien mengatakan lukanya berangsur sembuh
O:luka pasien sembuh
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
c.         Nyeri bdagenciderabiologis
S: pasien mengatakan sudah tidak nyeri
O:pasien tidak tampak nyeri
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
d.        Kekurangan volume cairan dehidrasi bd kegagalan mekanisme pengaturan
S: pasien mengatakan tidak lemes
O:pasien tampak bugar
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
e.         Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan polidipsi  / polifagia
S: pasien mengatakan makan mau banyak
O:pasien tampak sedang makan ,mkan 1 porsi habis
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
f.         Resiko injuryb.dgangguan penglihatan
S: pasien mengatakan selalu berhati hati
O:pasien tampak berhati hati melakukan kegiatan
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
g.        Resiko infeksi bdlukaganggren
S: pasien mengatakan tidak nyeri pada bekas luka
O:tidak tampak tanda tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
h.        Ketidak efektifan perfusi jarigan perifer bd ketidak sesuaian antara ventilasi dan aliran darah
S: pasien mengatakan badannya terasa segar, tidak pusing
O:pasien terlihat segar, peredaran darahnya lancar
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
I Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
     S ; pasien mengatakan badan sudah terasa enak
O: Pasien terlihat dudukdi tempat tidur
TTV sebelum dan setelah aktifitas normal
A. masalah teratasi
P. pertahankan intervensi.
J. hipertermia berhubungn dengan dehidrasi
S : Pasien mengatakan badan tidak terasa panas
O : suhu  36 derajad celcius
  A: intervensi berhasil
  P: Stop intervensi